Trust Me … Saya Sudah ke Trusmi

Sambung famili sangat diperhatikan oleh keluarga mertua, sehingga sudah bertahun-tahun kebiasaan mengunjungi sanak famili terus diupayakan pelaksanaannya. Termasuk pada hari Sabtu pagi (2/8), 26 (dua puluh enam) personil, mulai dari bapak mertua hingga cucu berangkat ke Majalengka.

Yang kami kunjungi adalah ibu dari Ibu mertua saya, setelah satu jam berkunjung, rombongan tidak lantas bergegas pulang ke Soreang. Rencana lainnya dalah dengan melanjutkan perjalanan menuju arah kota Cirebon yang terkenal dengan kuliner empal gentong serta batik.

Sekitar 1,5 jam dari kota Majalengka ke jalur pantura Cirebon sudah kami tempuh. Tempat makan Mang Mul menjadi pilihan kami sekeluarga. Rumah makan empal gentong ini berada di sepanjang Jalur Pantura Plered, Tengah tani, Kabupaten Cirebon. Setelah kuliner selesai, acara dilanjutkan dengan mengunjungi Toko Batik Trusmi.

Trust Me … Saya Sudah ke Trusmi

Sesampainya di toko Batik Trusmi, kesan pertama yang dirasakan; ramai dan luas. Dan di salah satu dinding dekat kasir terpampang piagam rekor MURI untuk Toko Batik Trusmi sebagai pemegang rekor pemilik toko batik terbesar dan terluas serta pemiliknya berusia termuda pada 25 Maret 2013. (Baca: Pemegang Rekor MURI Pemilik Toko Batik Terbesar dan Terluas ).

Saya dan istri berbelanja beberapa potong baju dan bahan kain untuk dijahit. Anak-anak pun sangat senang berada di Toko Trusmi. Bagi pengunjung yang lelah karena terlalu lama berdiri bisa menempati tempat duduk yang disediakan atau pada karpet yang sudah disediakan.

Anak-anak senang memainkan wayang golek mini yang dipajang di etalese Toko Trusmi

Sekilas tentang Batik Trusmi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas – Kampung Pusat Grosir Batik Trusmi adalah pusat industri batik dan wisata kuliner Cirebon terpelihara. Tidak hanya wisatawan lokal yang datang ke kampung ini, tetapi pelancong dari mancanegara seperti Jepang, Amerika, dan Australia.

Kampung Pusat Grosir Batik Trusmi terletak di Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, yaitu sekitar 4 km dari Kota Cirebon ke arah barat menuju Kota Bandung. Di desa Trusmi dan sekitarnya terdapat lebih dari 3000 tenaga kerja atau pengrajin batik. Tenaga kerja batik tersebut berasal dari beberapa daerah yang ada di sekitar desa Trusmi, seperti dari desa Gamel, Kaliwulu, Wotgali, dan Kalitengah.

Batik Trusmi berhasil menjadi ikon batik dalam koleksi kain nasional. Batik Cirebon sendiri termasuk golongan Batik Pesisir, namun juga sebagian batik Cirebon termasuk dalam kelompok batik keraton. Hal ini dikarenakan Cirebon memiliki dua buah keraton yaitu Keratonan Kasepuhan dan Keraton Kanoman, yang konon berdasarkan sejarah dari dua keraton ini muncul beberapa desain batik Cirebonan Klasik yang hingga sekarang masih dikerjakan oleh sebagian masyarakat desa Trusmi di antaranya seperti Mega Mendung, Paksinaga Liman, Patran Keris, Patran Kangkung, Singa Payung, Singa Barong, Banjar Balong, Ayam Alas, Sawat Penganten, Katewono, Gunung Giwur, Simbar Menjangan, Simbar Kendo, dan lain-lain.

Sejarah Batik Trusmi

Kisah membatik Desa Trusmi berawal dari peranan Ki Gede Trusmi. Salah seorang pengikut setia Sunan Gunung Jati ini mengajarkan seni membatik sembari menyebarkan Islam. Sampai sekarang, makam Ki Gede masih terawat baik, setiap tahun dilakukan upacara cukup khidmat, upacara Ganti Welit (atap rumput) dan Ganti Sirap setiap empat tahun. Di sepanjang jalan utama yang berjarak 1,5 km dari desa Trusmi sampai Panembahan, saat ini banyak kita jumpai puluhan showroom batik. Berbagai papan nama showroom nampak berjejer menghiasi setiap bangunan yang ada di tepi jalan. Munculnya berbagai showroom ini tak lepas dari tingginya minat masyarakat terutama dari luar kota terhadap batik Cirebon.

Baik itu saja sekilas tentang Trust Me … Saya Sudah ke Trusmi 🙂 Silakan Anda ke sana untuk membuktikannya 🙂