11.11.14

Saya Kini Sibuk Setelah Di-Downsizing

Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, semenjak 'dirumahkan' oleh perusahaan yang telah 5 tahun bersama - banyak sekali aktifitas yang bisa dibilang tanpa rencana tapi hanya Allah Swt yang membuatnya. Bicara dirumahkan; saya masih ingat, kelimpungan! Kepada siapa harus mencurahkan kesedihan? Jujur ya ... Pundak pertama yang saya jadikan tempat untuk mengeluarkan airmata duka karena merasa 'dianiaya' oleh tempat kerja adalah istriku ... Kalau mengingat kembali kejadiannya, duh... India banget!

Hari-hari berikutnya saya banyak berpikir, "Kemana ya mencari kesibukan?" Ingat, bukan kerja tapi kesibukan, lho ya :) Pasalnya, saya sudah terlanjur muak dengan dunia kerja yang orang lain tidak menghargai dedikasi, kreatifitas dan prestasi pekerjanya.

Di dalam masa menganggur, saya bisa bertemu dengan seorang young-preneur; Bob Merdeka. Pernah saya buat ulasannya sebagai tanda proud and pride bisa berkesempatan bertemu dengan sosok yang terkenal dengan produk fenomenal Maicih-nya tersebut (BACA: Berteman dengan Bos Maicih). Rupanya, kang Bob mengajak saya untuk merintis usaha membangun aset Tiens - sebuah usaha asal negeri Cina yang sudah dibangun sejak 14 tahun silam dan hingga saat ini masih bisa bertahan. Dari sini saya mulai merintis usaha Tiens secara online, serta pernah rutin mengikuti pertemuan-pertemuan membangun kapasitas diri dan cara presentasi yang baik dan benar di depan publik (secara tidak langsung). Hari inipun saya masih menjual produk Tiens, dari sekian banyak pemesan - rata-rata mereka mengeluhkan masalah kesehatan; lemah, letih, dan lesu, ada juga yang memesan obat peninggi badan, atau pemutih kulit.

Kemudian, takhanya bergelut dengan Tiens saja, saya juga tetap aktif di kegiatan komunitas; Relawan TIK. Di bawah binaan BAPAPSI, atas inisiatif Kabid.-nya; Anita Emmayanti, saya pun diarahkan untuk berperan aktif di masyarakat dalam hal pembinaan pemanfaatan TIK, seperti: Internet Sehat, Pelatihan Jurnalistik, dan mengelola portal lokal Si Cepot Soreang.

Pernah suatu hari di awal saya mulai menjadi pengangguran, curhat kepada bu Emma - panggilan akrab Anita Emmayanti, "Bu ke depan saya akan banyak waktu untuk RTIK karena saya sudah resign bekerja..." suara saya agak lirih.

"Lho kenapa resign?" ujar Emma keheranan.

"Saya kena downsizing bu..." jawab saya yang masih berusaha menyembunyikan kata, 'Dipecat'

Setelah saya jelaskan bahwa saya kena imbas perampingan jumlah karyawan di tempat kerja, bu Emma pun terdiam hingga akhirnya berucap, "Sabar aja kang ... Toh kita tidak tahu rencana Allah yang sebenarnya ke depan. Semoga skenario yang terbaik akan kita dapatkan, Insya Allah," pesan Emma waktu itu. Pesan tersebut persis seperti yang diucapkan oleh mertua serta orangtua saya di rumah.

Rupanya doa kolektif begitu kuat, sehingga pada akhirnya saya seperti sekarang ini; sibuk! Tiba-tiba saja saya harus 'terbang' ke Pontianak untuk mengikuti diklat lanjutan konsultan UMKM bersama dengan calon Fasilitator UMKM lainnya yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia.

Takcukup menjadi fasilitator UMKM saya pun harus 'menginap' 10 hari di Bali, tujuannya belajar menjadi Fasilitator Perpuseru yang digagas oleh Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI) bekerja sama dengan Bill & Melinda Gates Foundation. Sekembalinya dari Bali wajib terjun melakukan pendampingan 6 (enam) Taman Bacaan Masyarakat. Mereka (TBM) masing-masing akan mendapatkan hibah 3 unit komputer berikut modem dan pulsa internet. Saya masih ingat ucapan Erlyn Sulistyaningsih selaku Direktur Program PerpuSeru CCFI di sela-sela acara pembekalan (Training on Trainer), "Tujuan PerpuSeru adalah menjadikan perpustakaan desa menjadi lebih kuat, kreatif dan mandiri yang didukung dengan kemitraan yang kuat dengan memanfaatkan teknologi, informasi serta komunikasi."  

Saya Kini Sibuk Setelah Di-Downsizing

Hari ini, saya dihadapkan oleh sebuah tanggungjawab; sebagai Fasilitator TIK untuk 3 (tiga) hal; RTIK Kabupaten Bandung, Konsultan UMKM, dan Fasilitator PerpuSeru. Hmmm... Tidak ada sedikitpun rencana akan semua ini, bekerja di belakang meja selama 5 tahun cukup menjadi pelajaran; bahwa di luar sana masih banyak bidang garapan yang perlu uluran tangan kita ...

Saya yakin dengan semangat berbagi, berkolaborasi maka hasilnya adalah rejeki. "Rejeki itu tidak hanya nilai rupiah, berjejaring, berteman dengan banyak orang pun itu rejeki," tegas Emma di saat penyelenggaraan rapat koordinasi dan evaluasi pemanfaatan Community Access Point (CAP) yang telah diberikan oleh pemerintah daerah kabupaten Bandung, Senin kemarin (10/11)   

Memang benar ... Saya saat ini seperti dapat durian runtuh! Widih, ngeri dooong? Nggak kan pake helm terus jauh dari pohon durennya (halah!). Gimana nggak dibilang rejeki, coba perhatikan komptensi yang dimiliki RTIK Kabupaten Bandung berikut ini.
  • Suro Udioko - Seorang editor bahasa di surat kabar Inilah Koran,
  • Absurditas Malka, Cerpenis, Seniman, karyanya hari ini sampai dengan Kamis (11 s.d. 13 Nopember 2014) tulisan pendeknya berupa Carita Pondok, "Bogoh Ka Anjing" hadir di Harian Tribun Jabar,
  • Aep Gunarsa - Seorang fotografer yang lagi sibuk melanjutkan S2 kenoktarian di salah satu sekolah magister di Bandung, juga sibuk menjadi dosen di Sukabumi,
  • Aufa Arham - Seorang internet marketer yang telah teruji; lewat kepiawaiannya, Mirtazani - sebuah retail fashion online di Bandung, omzet-nya mengalami peningkatan yang signifikan,
  • Alvain - Seorang freelancer yang telah membantu perekonomian keluarganya lewat meraup dollar dengan menjual desain baik UI (user interface) atau UX (User Experience),
  • Zamjam - Seorang pengelola Taman Bacaan Masyarakat yang harus membagi waktunya sebagai seorang PNS,
  • Sani - Mahasiswa tingkat akhir UIN dan jurnalis muda,
  • Saya - Mmmm ... Nothing special at all! Just an ordinary facilitator ... :D
Itu saja barangkali memuntahkan isi pikiran pada kesempatann siang hari ini. ... Rupanya, Saya Kini Sibuk Setelah Di-Downsizing baru sadar xixixi :D

0 komentar:

Poskan Komentar

Apa pendapat Anda? Silakan :)