10.12.14

cinta Tak Pernah Tua karya Benny Arnas

Pagi tadi (10/12) saya mendapatkan paket kiriman buku kumpulan cerpen dari seorang teman 'baru'. Kita menjadi teman karib saat sama-sama mengikuti pelatihan menjadi seorang Fasilitator di Bali beberapa bulan yang silam. Buku ini terbilang artistik dan eksotik; dengan tebal 130 halaman, berbahan kertas non-HVS; Papergram (ringan) semakin menambah enteng saja untuk ditenteng. Buku yang saya maksud adalah cinta Tak Pernah Tua.


Adalah Benny Arnas, lelaki kelahiran Lubuklinggau, 8 Mei 1983, dialah orangnya yang mengirimi saya buku keren ini. Suami dari Desy Arisandi ini merupakan penulis bergenre sastra yang khas. Bapak dua anak ini banyak menerima penghargaan sebagai buah dari karya-karyanya, sebut saja, Hadiah Sastra Batanghari, Benny meraih hadiah ini pada 2009 dari Gubernur Sumatera Selatan. Selanjutnya bagaikan aliran sungai, airnya mengalir deras, penghargaan demi penghargan diraihnya.

cinta Tak Pernah Tua karya Benny Arnas

Buku cinta Tak Pernah Tua karya Benny Arnas merupakan kumpulan cerita pendek berisi 12 judul, antara lain:
  1. Pengelana Mati dalam Hikayat Kami,
  2. Gulistan,
  3. Orang Inggris,
  4. Pohon Tanjung Itu Cuma Sebatang,
  5. Muslihat Hujan Panas,
  6. Bunga Kecubung Bergaun Susu,
  7. Senapan Bengkok,
  8. Batubujang,
  9. Belajar Setia,
  10. Tupai-tupai Jatuh dari Langit,
  11. Senja yang Paling Ibu,
  12. Cahaya dari Barat.

"Judul-judul cerita yang absurd," itu kesan pertama yang terucap dari batin saya. Hanya beberapa yang judulnya biasa saja, sisanya, terbungkus metafora di setiap penjudulan ceritanya. Cukup untuk menunjukkan sisi karakter lain dari seorang penduduk Lubuklinggau yang menolak mainstream di dalam karya tulisnya. 

Pernah suatu hari saya bertanya, "Ben, emangnya orang mengerti dengan gaya tulisanmu?" 

Ayah dari Dina dan Dkayla inipun menjawab, "Aku menulis itu bukan lagi memikirkan ada tidak sih pembaca atas setiap karyaku? Tetapi yang aku pikirkan, 'bagaimana saat aku menggoreng bebek itu bukan goreng bebek biasa, melainkan bebek betutu yang bercita-rasa?'"  

Lagi-lagi doi bermetafora :) Baiklah kalau begitu ...

Saat tulisan ini bergulir, buku cinta Tak Pernah Tua tengah dibaca oleh istriku, Risya. Saya perhatikan, di dalam keseriusan membaca isi buku tersebut, Risya takjarang mengernyitkan dahi namun rasa penasaran untuk mengkhatamkan buku ini sangat kuat. Artinya, Benny memang sudah piawai mengajak pembaca untuk terus larut dalam diksi dan setiap bahasa perumpamaan, ungkapan spontanitas yang tertuang dalam buku ini.
Saya coba mewawancarai Benny Arnas via inbox Facebook, namun belum juga dibalas. Maksud saya ingin menanyakan tentang beberapa hal lain dari dirinya. Akhirnya saya coba Google-ing. Saya memperoleh Informasi Benny Arnas sejauh ini sudah menelurkan buku-buku lain; Bulan Celurit Api, Jatuh dari Cinta, serta Bersetia
Perhatikan kalimat dari cerita ke-5, Muslihat Hujan Panas dari buku cinta Tak Pernah Tua berikut, "Sejak itu, gairah hidup pasangan Samin-Maisarah meredup perlahan-lahan. Kehilangan telah menyadarkan mereka bahwa, seperti kata orang-orang tua dulu, anak adalah bulan purnama di dalam rumah. Kepergian mereka menyebabkan hidup tak ubahnya seperti meraba dalam lorong yang gelap. Saban hujan turun di tengah hari yang kerontang, Maisarah seperti diseret ke labirin kesedihan yang panjang dan penuh liukan. Samin, mungkin karena sadar posisinya sebagai imam, mencoba menguat-nguatkan diri dan menyalurkan kekuatannya pada Maisarah. Tapi sia-sia, Maisarah seperti tak menganggapnya. Bahkan ketika Samin mengutarakan maksudnya untuk memiliki keturunan lagi, Maisarah muntab.

“Hah, masih sempat pula kau mengurus kenikmatan dunia, Samin?! Lagi pula usiaku hampir empat puluh. Malu! Apa kata orang kampung. Cukuplah kematian Mursal dan Badri memberi pelajaran tentang malu!”

“Mengapa kau bicara seperti itu, Mai? Seperti tak ada adat kau? Tak pernah kau mengaji tentang menghormati suami? Sedih itu diperbolehkan Tuhan, tapi jangan berpanjangan. Begini akibatnya, kau jadi melawan. Lagi pula, aku tak paham ‘malu’ macam apa yang kaubicarakan?”

“Hah, berlapis nian kalimatmu, Samin. Yang mana harus kujawab? Aku tak peduli tentang kapan aku harus berhenti meratap. Kesedihan ini terlanjur hidup dengan malu yang harus ditanggung. Nah, kau malah minta anak lagi!”"


Diksi yang penuh dengan spontanitas dari seorang Benny Arnas. Hal itu saya buktikan sendiri, saya duduk berdampingan dengannya di sebuah sesi kelas pelatihan Fasilitator Perpuseru. Saya tanya, "Apa yang sedang kamu tulis?" Lantas dijawabnya, "Ini lagi menulis cerita bersambung untuk sebuah koran...."  Saya perhatikan, begitu spontan Benny menulis kata demi kata disertai diksi-diksi yang mengalir begitu cepat. "Talenta," benak saya ikut bicara mengenai cara Benny Arnas menulis sebuah cerita saat itu.

Ada hal lain yang juga menarik dari buku cinta Tak Pernah Tua. Di dalam buku ini terdapat ilustrasi hadir menghiasi setiap cerita. Benny pernah berkisah, "Namanya Abdullah Ibnu Talhah, dia seorang ilustrator kelas dunia. Taksembarangan buku bisa disisipi oleh goresan gambar dia (Abdullah-red)," tegas Benny.  


Itulah yang bisa saya ulas tentang cinta Tak Pernah Tua. Buku cetakan pertama 2014 terbitan PT Gramedia Pustaka Utama ini dapat diperoleh di toko-toko buku terkemuka di kota Anda, pembaca ... 

"Tidaklah kalian tahu, kalau setelah hijarhnya Rasulullah tak ada lagi hijrah di muka Bumi ini, kecuali kesungguh-sungguhan untuk Berbuat baik?" Tanjung Samin bin Muhammad Abduh 


Kutipan di atas merupakan ungkapan yang ada di lembar prolog buku cinta Tak Pernah Tua karya Benny Arnas. 

Soreang, disertai semerbak bau tanah kering tersiram air hujan. Pukul 16.07 

2 komentar:

  1. Euh dodol ah, sugan teh harus klik dulu tab blogger, geuning aya di handap ieu teh :D hihihi... ngawiat link Kang absurditasmalka.blogspot.com blog info lomba menulis

    BalasHapus
    Balasan
    1. mangga ... doa we sugan janten bekling hehehe :D

      Hapus

Apa pendapat Anda? Silakan :)