26.3.17

Mengitari Yogyakarta Bersama Teman Blogger dan Media

Mengitari Yogyakarta Bersama Teman Blogger dan Media - Awal bulan Maret menjadi awal bulan yang membahagiakan bagi saya. Kenapa saya bilang seperti itu? Sebab saya bisa dua kali berkunjung ke kota pelajar; Yogyakarta.

Saya diundang oleh BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Teroris) untuk bisa hadir dalam acara Saresehan Pencegahan Paham Radikalisme di Alana Hotel jalan Palagan Tentara Pelajar, Sleman. Salah satu materi kegiatan waktu itu, BNPT mengajak pegiat dunia maya yang hadir untuk sama-sama merumuskan bagaimana caranya membasmi berita hoax di internet. Sebab berita hoax dapat menjadi pemicu terjadinya perpecahan yang berujung kepada radikalisme.

Acara ini berlangsung mulai dari 1 hingga 3 Maret 2017. Setelah tiga hari berlalu, saya pun kembali pulang ke Bandung.

Mengitari Yogyakarta Bersama Teman Blogger dan Media 

Tidak lama sekembalinya dari kota gudeg, saya pun harus berangkat lagi ke Yogyakarta. Kali ini yang mengundang saya adalah Brother Indonesia.

Perusahaan yang terkenal dengan produk mesin jahitnya ini mengajak saya dan juga blogger serta media untuk lebih mengenal kearifan lokal kota ini - terlebih lagi dari sisi budaya. Sebab, di Yogyakarta terdapat banyak sekali peninggalan sejarah yang kental dengan seni dan budaya dan masih terus dirawat oleh generasi masa kini.

Tema acaranya sendiri berjudul, Brother Cultural Amazing Race - acara yang lumayan menguras tenaga namun menyenangkan ini dimulai dari hotel tempat kami semua menginap; Hotel 1O1 yang beralamat di Mergu Utomo takjauh dari tugu ikonik kota ini; Tugu Yogyakarta. Diawali dengan mengisi perut supaya bertenaga selama menunaikan tugas-tugas yang diberikan - saya dan tim mulai keluar hotel dan bergerak.

Sarapan sebelum gathering Brother Cultural Amazing Race dimulai
Sarapan sebelum gathering Brother Cultural Amazing Race dimulai [dok. pri]
Destinasi pertama yang harus saya dan tim kunjungi adalah alun-alun Kidul Yogyakarta. Di tempat yang terkenal dengan pohon beringin kembarnya ini, kami harus mencoba menaiki becak. Tidak saja menaiki, tapi satu per satu dari anggota tim harus menjajalnya dengan merasakan mengayuh becak tersebut.

Tugas lainnya adalah menggali informasi seputar Sasono Hinggil. Dan kebetulan saya bisa bertemu Kelik - seorang bapak tua yang sudah lama tinggal di sana. Beliau lah yang menceritakan seputar Sasono Hinggil kepada kami. Dan kebetulan, pak Kelik juga yang mendampingi kami saat mencoba becak di sini waktu itu (Kamis, 9/3).
adetruna foto bersama pak Kelik warga Taman Sari takjauh dari Sasono Hinggil
Dari pak Kelik diperoleh informasi bahwa Sasono Hinggil adalah tempat Sultan menggelar pertunjukan seni wayang kulit. Hampir semua hari besar dirayakan dengan pagelaran wayang kulit termasuk pada hari raya Natal. Informasi lain, pak Kelik menyebutkan Sasono Hinggil ini dulunya adalah bernama Siti Hinggil yang berarti tanah tinggi.

Usai dari Sasono Hinggil, masih di seputaran Taman Sari, tim kami bergerak menuju sebuah bengkel seni, tempat pembuatan wayang kulit. Tempat yang kami kunjungi adalah sanggar seni milik pak Sugeng. Ada yang menarik sepanjang perjalanan, kami menjumpai warga masyarakat yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Yang cukup menyita perhatian saya adalah seorang perempuan tua tengah membatik dengan tekun. Saking tekunnya, dia sedikitpun tidak tergoda dengan kehadiran kami. 


ibu membatik di Taman Sari Yogyakarta
Derap langkah kami seolah bukan sesuatu yang bisa memecah konsentrasi STAY FOCUS! [dok. pri] 
Paling tidak, ibu menoleh untuk mencari sumber bunyi derap langkah kaki kami yang cukup memunculkan suara karena berjalan dengan agak cepat.

Usai melewati rumah warga sekitar cagar budaya Taman Sari sayapun tiba di sanggar seni milik pak Sugeng. Kami kembali menggali informasi seputar perkembangan wayang kulit -khususnya yang dikelola pak Sugeng.

peralatan mengukit wayang kulit yang dijumpai di Puppet Handcraft SUGENG
Peralatan mengukir wayang kulit yang dijumpai di Puppet Handcraft SUGENG [dok. pri]
Destinasi belum berakhir hingga di sini, karena kami pun harus menunaikan tugas lain, yaitu membatik. Untuk bisa mengerjakan tugas ini, kami harus menyusuri jalanan dan gang-gang rumah penduduk. Banyak sekali spot-spot menarik sepanjang jalan. Saya pun tidak menyia-yiakan kesempatan ini - saya abadikan hal-hal menarik di sekitar Taman Sari.


salah satu peninggalan yang ada di area wisata Taman Sari Yogyakarta
Salah satu peninggalan yang ada di area wisata Taman Sari Yogyakarta [dok. pri]
Bangunan di atas menyita perhatian saya saat melewati Taman Sari menuju Sanggar KALPIKA - tempat belajar membatik. Di sana teman-teman dari tim lain sudah lebih dahulu membatik - belajar langsung ke ahlinya.
Memamerkan hasil akhir [foto: Mikhael Gewati]

A post shared by =AtrunA= (@adetruna) on

Tim kami akhirnya kembali ke hotel setelah menyelesaikan tugas di Malioboro seperti berfoto dengan simbol di sana; Jalan Malioboro, Jalan Pasar Kembang serta mencari bule untuk diajak foto bareng dan dipaksa mengaku wisman dari Rusia.
Ki-Ka: Ate Malem (blogger), Mikhael Gewati (Kompas.com), saya & Adi (detik.com) [dok. pri] 

Akibat nggak bawa sun block, kulit wajah terpanggang :D

Berfoto di Sarkem [dok. pri]

Gathering bisa nyaman, karena tepat memilih sepatu [dok. pri] 

Dan sebelum benar-benar masuk hotel usai menunaikan semua tugas - kita masih diajak untuk berfoto bersama di lampu merah depan Tugu Yogyakarta.

Menegangkan itu adalah berfoto dengan waktu yang terbatas karena LAMPU AKAN SEGERA HIJAU
Menegangkan itu adalah berfoto dengan waktu yang terbatas karena LAMPU AKAN SEGERA HIJAU [foto: Mikhael Gewati]
Lantas, apa nggak lecet kakinya sebab sudah menempuh perjalanan yang cukup jauh? Bisa saja sebagian pembaca mempertanyakan hal ini. Tentu saja ada cara agar kita tetap nyaman saat berjalan-jalan dengan jarak yang jauh. 

Salah satu kuncinya ada di pemilihan sepatu, sepatu nyaman tentunya akan membuat perjalanan Anda menjadi nyaman pula. Seperti saat gathering Brother Cultural Amazing Race kemarin, saya mengenakan sepatu adidas terbaik.

Seru sekali acara Mengitari Yogyakarta Bersama Teman Blogger dan Media - padahal semakin siang semakin puanas, hauuus. Nggak salah kalau panitia mengingatkan untuk membawa sun block dan (kacamata) sun glasses.

foto bersama tanda usainya Brother Cultural Amazing Race Yogyakarta 8 - 10 Maret 2017 [foto: istimewa]
Baiklah ... Pada gathering selanjutnya saya akan belajar dari pengalaman ini ... Pembaca memiliki pengalaman seperti saya? Monggo komentar 😃

4 komentar:

  1. Wah, seru banget jalan2 dan ngebatiknya ya, Kang. Etapi, berfoto di jalan raya pada detik2 akan pergantian merah ke ijo itu termasuk seru plus plus lho! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget mbak - berfoto di jalan raya pada detik2 akan pergantian lampu merah ke hijau itu seru selain harus berani menanggung malu juga sih ... hahaha :D

      Hapus
  2. Balasan
    1. pertanyaannya bagus, bawa dooooong :D

      Hapus

Apa pendapat Anda? Silakan :)