Kelas Blogger 17: Menggapai Apa yang Disampaikan Om Gapey

Saya masih sangat ingat kapan kali pertama bertemu dengan Om Gapey yang saat ini terbilang konsisten membangun branding sebagai seorang facebooker dengan status Gombal Warning-nya.

Waktu itu kami bertemu di Sarinah. Lebih tepatnya di Demang Cafe sekira akhir 2015-an dan kemarin (Rabu, 18 Oktober 2017) saya berkesempatan berjumpa lagi dengan Om Gapey. Asli senang banget. Saking senangnya lupa gak swafoto bareng! UMUR 😀

Tempat yang menjadi pertemuan kembali (reuni) saya dan Om Gapey ini di Kantor Asuransi Raksa Online Jakarta yaitu di lantai 3 Wisma BSG bilangan jalan Abdul Muis (nomor 40, Jakarta Pusat). Di sinilah Kelas Blogger kembali menggelar hajatannya, kali ini mengambil tema, Bagaimana Melakukan Reportase dan Blogging On The Spot.

Blogging On The Spot-nya sendiri sudah dilakukan mendahului materi dengan objek penulisan Asuransi Raksa Online (Araksa Online). Semua peserta diajak berwisata mengitari ruangan demi ruangan yang dimiliki oleh Araksa Online. Semua ini dilakukan sebagai pelengkap bagi semua peserta (blogger) dalam menuangkan tulisannya.

Setelah kegiatan Blogging On The Spot usai dengan menghasilkan para juaranya (Ali Muakhir sebagai juara I dan berhak membawa pulang 1 unit notebook), Om Gapey pun hadir di tengah-tengah kami semua Kelas Blogger ke-17. (Artikel yang saya tulis saat mengikuti lomba blogging on the spot mengenai Asuransi Raksa Online bisa cek: Wisata ke (Kantor) Asuransi Raksa Online Jakarta)

Membuka kelas dengan penampilannya yang kerap guyon dan menyapa orang-orang yang dikenalnya menjadikan suasana kelas yang dibawakan oleh Om Gapey terasa santai namun sarat dengan wawasan baru serta cerita pengalamannya yang menarik.

Seperti ketika dirinya pergi ke pulau Bawean bahkan telah begitu percaya diri bisa mengantongi cerita lengkap usai menggali informasi dari nara sumber. Tapi begitu sudah sampai ke rumah, om Gapey malah lemas. Dirinya merasa lunglai. Kenapa? Rupa-rupanya, ada hal kecil tapi sangat fatal yang tidak dicatat, yaitu; siapa dan apa jabatan dari nara sumber yang sudah dia gali informasinya.

Dari cerita tersebut, Om Gapey ingin menggarisbawahi bahwa keakuratan data sangatlah penting dalam membuat sebuah reportase saat peliputan. Oke selanjutnya teman-teman bisa membaca uraian saya berikut ini.  Yuk .. siapkan camilan dan teh atau kopi hangatnya ya?! 😀

Kelas Blogger 17: Menggapai Apa yang Disampaikan Om Gapey

Ada berapa indera pada diri setiap orang? Paling nggak ada 5 seperti yang kita tahu dengan istilah panca indra … Ada mata untuk melihat, hidung untuk mencium, lidah untuk mengecap rasa, telinga untuk mendengar, dan kulit sebagai peraba.

Nah, di kelas kemarin, Om Gapey menekankan soal panca indra ini, sebagai blogger yang tengah mencatat perjalanan, kuliner atau liputan maka sudah seharusnya menggunakan semua indra dalam mencatat semua hal yang dijumpai di lapangan.

Write the way you see, hear and feel

Ada pernyataan dalam bahasa Inggris simpel dipertontonkan oleh Om Gapey lewat slide materi pelatihan kepada semua teman-teman Kelas Blogger ke-17 kemarin, bahwa dengan semua indra setiap blogger sudah mulai menulis dengan apa yang dilihat, didengar dan dirasakan, “Write the way you see, hear and feel”.

Dalam memperkaya tulisan, tentunya kita harus mampu mengajak pembaca agar bisa turut larut ke dalam bacaan yang tengah dibaca. Oleh karena itu, Om Gapey menyarankan, dalam membuat reportase – blogger supaya berlagak seperti reporter yang tengah melakukan siaran langsung. Tentu kita tahu di televisi reporter sering melaporkan dengan menyebut beberapa hal yang dia lihat, pun dengan blogger.

Blogger itu Selalu Show and Tell

Kalimat ini pun keluar dari lisan Om Gapey, blogger sudah sepantasnya memperlihatkan dan menceritakan semua yang telah dilihat. Menurutnya, show don’t tell sangat tidak berlaku bagi seorang blogger. Kasarnya, bukanlah blogger ketika memiliki pengalaman dengan apa yang dilihat tapi tidak pernah diceritakannya.

Saya setuju! Hingga hari ini pun banyak warganet dengan predikat blogger tapi yang dipertontonkannya melulu konten promosi entah itu produk atau tempat wisata, kuliner atau hotel tanpa sentuhan experience atau pengalaman dari si penulis. Tidak ada kesan cerita yang dialami oleh blogger itu sendiri.

Tulisan beretika dan ekslusif

Saat memaparkan bagaimana menulis reportase kemarin, Om Gapey tidak luput membahas soal etika. Menurutnya, tulisan blogger yang baik itu memiliki etika. Menyoal etika, saya memiliki pengalaman tentang hal ini. Waktu itu di acara Blogilicious di Jakarta (Juni 2011) kita sepakat dengan 12 butir etika menulis blog.

Risa Amrikasari – nara sumber yang menggagas tentang butir-butir etika ini meminta kesepakatan dari semua audiens. Singkat cerita kami semua sepakat dan lahirlah 12 butir etika menulis blog. (Akan saya ulas di kesempatan lain mengenai butir-butir etika menulis blog ini, insya allah).

Setidaknya kita tidak menjiplak tulisan siapapun, semua ide kita tuangkan itu murni dari dalam diri kita sendiri tanpa harus menjadi orang lain. Kalau sampai mentok harus memakai karya orang lain, menurut etikanya – harus mencantumkan sumbernya. Sebab kalau tidak, itu sama saja dengan pembajakan dan sama sekali tidak menghargai hak kekayaan intelektual.

Pun dengan yang dijelaskan oleh Pak Gafer Fadli (nama sesungguhnya dari Om Gapey), tulisan yang kita buat memiliki etika; orisinil alias asli. Selain membahas tentang etika, satu hal menarik lain yang dibahas adalah soal ekslusifitas tulisan.

Blogger pun disarankan untuk bisa menjadi penulis dengan hasil tulisan yang baik dan ekslusif. Agar bisa menghasilkan tulisan berkualitas atau ekslusif, perlu beberapa hal yang wajib dipersiapkan. Dalam menulis sebuah reportase, blogger harus memiliki rencana; menentukan sudut cerita (angle), memilih nara sumber – untuk bisa memiliki tulisan ekslusif tentunya kita harus selektif dalam memilih sumber informasi.

Kemarin Om Gapey menceritakan pengalaman pribadi soal kelengkapan sebuah tulisan. Saya simpulkan dari penjelasan dan pengalamannya bahwa kita harus bisa menemukan, siapa nih kira-kira yang bisa menceritakan dengan gamblang tentang sebuah isu yang akan kita tulis laporannya. Serta tidak lupa mencatat nama dan hal lain yang sekiranya penting untuk dicatat mengenai nara sumber.

Lalu yang juga tidak boleh dilewatkan saat kita merencanakan sebuah tulisan reportase, menyiapkan daftar pertanyaan. Sehingga sebuah proses peliputan akan berjalan dengan baik karena sudah dipersiapkan dengan matang. Menurut saya pun ini penting, gak kebayang kalau saat akan menulis reportase dikerjakan dengan serba mendadak.

Penulis reportase pun harus bisa mengembangkan keingintahuannya serta peka dengan kondisi saat berada di lapangan. Dan dituntut mampu mengobservasi baik itu partisipatif (secara terbuka, terang-terangan) atau pun investigatif (melakukannya dengan menyamar, tidak terbuka).

Beberapa poin yang menjadi inti dari pelatihan Bagaimana Menulis Reportase oleh Gaper Sandi kemarin, bisa saya simpulkan menjadi beberapa poin, seperti:

1) Mengetahui Hal-hal Menarik

Hal pertama yang ditekankan ketika kita akan menulis reportase adalah memiliki pengetahuan menarik dari apa yang akan ditulisnya. Dengan memenuhi syarat ini, reporter bisa memberikan penjelasan dengan lebih mendalam.

2) Selalu kepo, Banyak Bertanya

Reporter yang akan menulis tentang sebuah isu dalam blognya, tentunya akan semakin menarik apabila menjawab semua ketidaktahuan pembaca. Semua ini bisa kita awali dengan bermodalkan selalu kepo dan banyak bertanya. Tentunya kita bertanya kepada nara sumber yang kompeten, sebab bila tidak artikel yang kita tulis sama dengan artikel abal-abal yang tidak jelas kebenarannya. Di sinilah kita harus selektif dalam memilih nara sumber.

3) Reportase berdasarkan 5W + 1 H dan So What?

Saya yakin semua sudah tahu tentang 5 W + 1 H. Unsur-unsur yang memang syarat mutlak dalam menulis reportase. Kemarin pun om Gapey kembali menyegarkan pengetahuan peserta dengan mengulangi pembahasan 5 W + 1 H. Ditambah dengan So What?

Yang dimaksud dengan so what oleh om Gapey adalah ya lantas apa dampak dari tulisan yang kita susun bagi pembaca? Kalau biasa-biasa saja sih perlu diasah kembali kecakapan kita dalam menulis. Jadi tulisan ideal itu yang memiliki unsur 5W + 1H dilengkapi dengan So What? 

Sehingga bacaan atau reportase yang kita buat benar-benar menjadi tulisan yang referentif sebab semua hal yang dibutuhkan pembaca ada dalam laporan ditambah tulisannya ada dampak bagi pembaca. Tentunya dampak yang dimaksud adalah dampak yang baik – yang tidak tahu sebelumnya menjadi tahu atau pembaca memiliki keinginan untuk mengalami seperti yang diceritakan oleh penulis.

Kang Arul dan Om Gapey (kanan) saat pelatihan Bagaimana Menulis Reportase dan Blogging On The Spot di Kantor Asuransi Raksa Online Jakarta
Kang Arul dan Om Gapey saat pelatihan Bagaimana Menulis Reportase dan Blogging On The Spot di Kantor Asuransi Raksa Online Jakarta [dokpri]
Itulah kiranya yang bisa saya ceritakan dari pengalaman mengikuti kelas blogger ke-17 kemarin. Selamat buat Kelas Blogger sebab acaranya cukup, “petjah!” Entah apa yang merasuki Kang Arul bisa ngocol seramai kemarin. Terima kasih atas hiburannya.

Dan yang sangat mengena adalah ‘tamparan’ demi ‘tamparan’ dalam mengajak kita semua untuk menjadi penulis yang baik dan benar itu sangat nampol! Terima kasih ya Om … Dengan mengikuti kelas blogger ke-17 kemarin, saya pun akhirnya dapat Menggapai Apa yang Disampaikan Om Gapey.

  • Demang Cafe…kayaknya saya di situ juga deh

    • eh iya ya tumplek di sini semua senior2 waktu itu #Kobel 😀

    • Emang, bang. Semua blogger tuir tumplek hehehe di acara Kobel waktu itu 🙂

  • Demang Cafe…kayaknya saya di situ juga deh

  • https://www.facebook.com/app_scoped_user_id/559261721083326/

    ‘tamparan’ demi ‘tamparan’ dalam mengajak kita semua untuk menjadi penulis yang baik dan benar

    makjleeeeb

    • Iya mak.. aselik! Aku tertampar haha

  • https://www.facebook.com/app_scoped_user_id/10213389727649443/

    👍 keren.. Sebagai blogger pemalas, perlu banget nih di kasih pencerahan dan tamparan kaya2 gini..

    • https://twitter.com/adetruna

      haha — hayuk atuuuh – bahas kucing di blog juga keren lho ^^

  • https://plus.google.com/+MariaGSoemitro

    Asyiknyaaaa…..sayang ngga punya lappy

    Andaikan punya, insyaallah ikut. Banyak manfaatnya 👍👍👍

    • https://twitter.com/adetruna

      bagi kita generasi jauh dari milenial emang menggunakan laptop itu keharusan 🙂