adetruna-di-acara-temu-blogger-kesehatan-dalam-rangka-hari-ibu

Menumbuhkan Rasa Empati Terhadap Kesehatan di Era Digital

Kesehatan

Dalam Islam disebutkan, lebih tepatnya hadits Rasulullah SAW – beliau bersabda, “Ada dua nikmat yang setiap orang umumnya lalai; nikmat waktu luang dan nikmat sehat.” Artinya, dalam menjalankan aktifitas sehari-hari manusia lebih banyak mengurusi hal-hal selain ibadah dan lalai memeriksa kesehatan badannya.

Dan tadi sebelum acara dimulai saya bersama dengan blogger lainnya diperbolehkan untuk memeriksakan kesehatan tubuhnya di meja yang sudah disediakan. Dan tadi saya sempat memeriksa tekanan darah, hasilnya saya memiliki gejala darah tinggi karena nilai tekanan darah yang saya dapatkan adalah 150. “Ini jangan dianggap biasa, sempatkan minggu depan untuk cek darah lagi ke klinik ya pak,” saran petugas kepada saya tadi (Sabtu, 22/12).

Acara yang saya maksud adalah Temu Blogger Kesehatan dalam Rangka Hari Ibu dengan tema, “Dengan Keseteraan Gender Wujudkan Kesehatan Keluarga”. Dan yang menjadi pembicara pertama di acara yang berlangsung di Hotel Bidakara Gand Savoy Homann Bandung tepatnya di Palace Room adalah Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI, drg. Widyawati, MKM.

Mengambil topik Sehat dan Cerdas dalam Bermedsos, ibu dengan empat cucu ini menyebutkan banyak bahasan menarik – salah satunya menjelaskan bahwa isu kesehatan menjadi komoditas hoaks yang empuk sepanjang Februari 2016 hingga Februari 2017.

Tentu saja ini sebuah kasus yang memiliki dampak negatif di masyarakat – bisa dibayangkan internet dan media sosial menjadi ancaman bagi siapa saja sebab kemampuan hoaks kesehatan yang menyesatkan tersebut. Membawakan materi dengan santai, membuat suasana pun terasa lebih relaks, salut untuk ibu Widyawati !

Ibu Widyawati tengah berbicara di hadapan hadirin yang mayoritas blogger Bandung
Ibu Widyawati tengah berbicara di hadapan hadirin yang mayoritas blogger Bandung [dok. pri]

Di sesi berikutnya sudah tampil Direktur Kesehatan Keluarga Kemenkes RI, dr. Eni Gustina, MPH membawakan topik Kesetaraan Perempuan dan Laki-laki dalam Rangka Mewujudkan Keluarga Sehat. jujur, pikiran saya langsung ke rumah. Saya langsung ingat anak dan istri, saya merasa betapa saya belum begitu benar-benar menyetarakan peran antara laki-laki dan perempuan di lingkungan saya terkecil ini.

Dengan adanya acara ini bisa memberikan pencerahan bagi saya untuk menerapkan di rumah, misalnya keadilan gender. Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi, Dinkes Provinsi Jawa Barat; drg. JuanitaP.F., MKM menjelaskan soal ini bahwa Setiap perempuan dan laki-laki ternyata memiliki kebutuhan yang berbeda.

“Sebab adanya ketidaksetaraan gender / perempuan ditempatkan pada posisi yang kedua tapi memiliki peran ganda; bekerja & mengurus keluarga,” ucap Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Prov Jabar dengan nada prihatin.

Akhirnya, saya bisa menyimpulkan bahwa era digital bagaikan dua kutub medan magnet bisa positif atau negatif. Positifnya apabila kita bisa menyaring dengan baik semua informasi hingga benar-benar jelas maka informasi kesehatan akan tersampaikan dan terasa manfaatnya. Namun sebaliknya bila penggunanya malah terpengaruh hingga memiliki dunia sendiri sampai-sampai menggerus rasa kemanusiaan baik untuk kesehatan diri kita, keluarga serta lingkungan maka ini yang harus diantisipasi.

Itulah sekilas reportase yang bisa saya tulis saat menghadiri Temu Blogger Kesehatan di Bandung hari ini (Sabtu, 22/12) – Mari kita sama-sama Menumbuhkan Rasa Empati Terhadap Kesehatan di Era Digital. Selamat beraktifitas!

 

2 thoughts on “Menumbuhkan Rasa Empati Terhadap Kesehatan di Era Digital

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.